Slow Down!
Setelah sekian lama mencari-cari jawaban agar pikiran ini lebih tenang dan tidak kemrungsung, akhirnya saya mulai menemukannya. Ini juga berkat dukungan ibu melalui telepon. "Slow down," kata beliau. Saya pun mendapat masukan dari teman-teman (melalui telepon juga) ketika mewawancarai mereka dalam rangka mengumpulkan data untuk penulisan buku. Beberapa hari setelahnya, saya menyadari bahwa interaksi saya itulah yang (ingin) saya sebut "rasah ndangak, ndelok kanan-kiri wae".
Jawaban itu itu, saya tuliskan sebagai peringatan kepada diri saya sendiri melalui tulisan di bawah ini.
Ketika memiliki cita-cita yang harus dikejar, seharusnya bukan menambah kecepatan lari, tetapi cukup berlari dengan kecepatan konstan setiap hari. Sisanya adalah tinggal menunggu waktunya tiba untuk memetik hasilnya. Sama seperti menanam pohon buah. Dilihat beberapa bulan pun masih tampak tidak meyakinkan bahwa tanaman itu nanti bisa menjadi sebuah pohon yang dapat menghasilkan buah.
Ketika memiliki ide untuk melahirkan sebuah karya di tengah-tengah kesibukan, mengerjakannya setiap hari justru melelahkan. Turunkan kecepatan. Kerjakan tiap akhir pekan. Tunggulah hingga waktunya tiba, ketika "pekan-pekan" itu sudah menumpuk tinggi.
Ketika jatuh cinta pada seseorang, tahan perasaan itu dan lihat lagi beberapa tahun lagi. Jika perasaan itu masih ada dan ia adalah orang yang sama, maka itu adalah perasaan yang nyata, bukan perasaan semu seperti yang dialami oleh kebanyakan pelajar dan mahasiswa. Saat ini bukan waktunya untuk jatuh cinta karena belum memiliki apa-apa untuk menjaga orang itu dari kesedihan dan membawanya menuju kebahagiaan.
Ketika sedang mempelajari bahasa asing, waktu adalah harga yang mahal untuk membeli apa yang ingin dikuasai. Dibutuhkan beberapa tahun untuk benar-benar merasakan hasilnya. Tidak apa-apa jika di tengah jalan merasa kesulitan sampai ingin menyerah. Lompati bagian itu, cari bagian lainnya. Ada banyak rutinitas sepele yang dapat membantu mempelajari bahasa itu meski sering kali tidak disadari manfaatnya. Gagal dalam ujian beberapa kali bukan berarti tidak mengalami perkembangan. Waktu yang telah dihabiskan untuk belajar belum dapat membeli kelulusan itu.
Untuk saat ini, yang perlu ditanamkan adalah kesabaran. Biarkan kesabaran mengendalikan semuanya agar waktu yang berjalan lambat dapat dipercepat.
Mungkin saja orang yang lebih dahulu mencapai kesuksesan adalah mereka yang lebih dahulu merasakan pahitnya perjuangan. Mungkin saja mereka telah melalui penderitaan panjang yang pada akhirnya mendapat hadiah berupa keinginan mereka yang terkabul itu. Allah Maha Adil.
Seperti kura-kura yang melangkah pelan, pasti akan tiba di tempat tujuan jika terus berjalan dan bersabar.
Maka, bersabarlah.
Image by wirestock on Freepik

No comments: