Mangafest 12 - Hari Pertama: Kenangan Baru Berselimut Haru
Sambil berhati-hati tengok kanan-kiri-depan saat melewati bundaran UGM yang legendaris itu, saya memerhatikan jalan masuk menuju gedung manten, atau lebih populer disebut GSP (Grha Sabha Pramana), tidak seramai terakhir kali saya mendatangi Mangafest yang diselenggarakan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri. Meski hari sudah sore, tidak terlalu banyak kendaraan lalu lalang melewati jalan yang menghadap ke utara ini. Bahkan antrean portal motor pun masih lebih ramai ketika hari kerja yang didominasi oleh anak-anak FEB, FIB, dicampur dengan pengunjung perpustakaan pusat UGM. Ketika saya melintasi jalan di sebelah barat lapangan GSP, sudah tidak ada antrean tiket yang mengular. Mungkin saat itu sudah melewati masa puncak keramaian di depan loket tiket. Saat saya akan memarkir kendaraan di timur lapangan (sebelah barat kolam kodok FIB), baru terlihat betapa ramainya acara tahunan itu.
![]() |
| Sisi timur lapangan GSP, difoto menggunakan mode panorama |
Setelah memarkir kendaraan, saya baru menyadari bahwa saya harus berjalan jauh ke sisi barat lapangan untuk menukarkan tiket digital dengan tiket fisik baru memasuki gerbang pemasangan tiket gelang di sebelah utara loket tersebut. Di antara tempat pemasangan tiket gelang dan pos pertama, terdapat area yang sangat luas meski tepinya dibatasi oleh sesuatu seperti tali agar pengunjung berjalan di jalur yang telah dibuat panitia.
Pos pertama berupa sebuah ruangan tenda hitam yang cukup luas. Diperkirakan, luasnya 6x10 meter persegi. Seperti Mangafest pada tahun-tahun sebelumnya, pemberhentian pertama pengunjung adalah pameran komik. Komik-komik yang ditampilkan di papan triplek berkaki itu merupakan komik yang telah dipilih oleh penilai untuk dipamerkan di Mangafest. Selanjutnya, para pengunjung diberi tiket untuk memilih komik favorit mereka. Jujur saja, saya juga ingin memilih komik favorit, tetapi tiket voting sudah habis saat itu.
![]() |
| Ruang pameran komik di Mangafest 12 |
Awalnya, saya kebingungan dengan tema yang ingin ditonjolkan oleh komik-komik yang berkompetisi di Mangafest kali ini. Saya baru bisa menyimpulkan setelah membaca lima judul komik. Entah benar atau salah, saya berkesimpulan bahwa tema yang diangkat adalah "bangkit kembali", tema paling umum yang biasa digunakan di berbagai acara pascacovid. Selain itu, saya merasa bahwa kebanyakan cerita yang ada di dalam komik-komik itu merupakan curhatan pribadi pengarangnya. Cerita tentang ketakutan akan masa depan, ketidakpastian nasib, hingga perundungan menghiasi ruangan pameran komik yang cukup panas itu. Namun, justru karena cerita yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari itulah yang membuat saya begitu tenggelam ke dalam panel-panel komik itu. Sayangnya, ruang pameran ini kurang nyaman digunakan untuk membaca karena minimnya dekorasi. Di Mangafest selanjutnya, saya harap ruang pamerannya dibuat lebih cozy dengan dekorasi yang dapat menarik para pengunjung dan membuat mereka betah berlama-lama.
![]() |
| Sudut lain ruang pameran komik di Mangafest 12 |
Begitu keluar dari ruang pameran itu, saya disambut oleh puluhan stan comiket yang menjajakan berbagai pernak-pernik, kerajinan tangan, hingga busana dengan desain yang mencolok. Saya merasakan stan comiket semakin ramai dikunjungi dari tahun ke tahun. Pun dengan saya, dulu tidak tertarik untuk mengunjungi stan comiket dan lebih memilih stan-stan besar yang menjajakan makanan, memamerkan mainan, dan menawarkan berbagai aksesoris kewibuan. Namun, pada Mangafest ini, saya tidak ingin melewatkan satu stan pun, apalagi ada satu stan teman saya yang harus saya beli produknya sebagai tanda kehadiran saya. Saya memandangi produk-produk yang ditawarkan oleh stan-stan itu, menikmati setiap detilnya, dan terkadang mengambil beberapa foto untuk diabadikan di galeri ponsel. Pada hari pertama, tujuan saya hanya melihat-lihat dan melakukan survey tentang produk apa saja yang mereka jual. Terlepas dari menarik atau tidaknya, saya bertekad kuat untuk membeli beberapa. Jika tidak, saya akan kembali ke Jakarta dengan perasaan sesal. Oleh karena itu, tidak ada lagi pikiran "Halah, cuma gantungan kunci. Buat apa dibeli?" di kepala saya. Kali ini, justru gantungan kuncilah yang paling menarik perhatian saya selain topi lucu Chopper dan Magikarp.
![]() |
| Stan comiket |
Di sebelah selatan stan comiket, terdapat area yang cukup luas lagi yang ternyata sudah dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk beristirahat. Mereka berbincang-bincang sambil duduk beralaskan rumput dan pasir, beberapa sambil menyedot minuman berwadah gelas plastik, dan di sudut lain ada yang sibuk berfoto dengan satu-dua orang cosplayer. Sebuah pemandangan yang seharusnya tampak biasa saja, tetapi sangat menyentuh hati saya. Sudah lama tidak menyaksikan pemandangan seperti itu. Tiba-tiba terbesit rasa kepengen. Saya juga ingin menikmati festival ini seperti mereka: sambil menikmati menu kuliner, berbincang-bincang dengan gandengan teman-teman di atas rumput di bawah langit yang mendung.
![]() |
| Para pengunjung menikmati Mangafest di bawah langit mendung |
Pada hari pertama, kunjungan saya ke Mangafest 12 diakhiri dengan tangan kosong. Tidak saya duga saya sangat puas hanya dengan melihat-lihat stan, orang-orang bercengkerama, para cosplayer berlalu-lalang, kampus FIB, dan langit mendung Jogja sore hari. Sayangnya, sebelum bintang tamu selesai membawakan lagu pada penghujung acara, saya sudah berpindah tempat.
Mangafest 12 - Hari Pertama: Kenangan Baru Berselimut Haru
Reviewed by Aladdin
on
October 31, 2022
Rating: 5
Reviewed by Aladdin
on
October 31, 2022
Rating: 5





