Apabila Harapanmu yang Dulu Dikabulkan, Memangnya Sanggup?
Kita sering bertanya-tanya mengapa rencana dan harapan yang sudah kita bayangkan sejak lama belum juga terkabul. Kita juga sering mengumpat kepada udara kosong bahwa dunia ini tidak adil. Kita sering tersakiti akibat harapan kita sendiri. Jika sudah begitu, apakah sebaiknya berhenti berharap?
Jawabannya, tidak. Kita memiliki agama sebagai pakaian kehidupan. Langkah kita disertai Allah selama kita tidak melupakan-Nya. Namun, tetap saja terasa sakit apabila harapan kita tidak kunjung terwujud. Tak apa, mengadulah pada Allah.
Mari kita berandai-andai. Seandainya harapan kita yang dulu terkabul, memangnya kita sanggup?
Bayangkan jika kita berharap kita dapat bekerja di sebuah perusahaan raksasa luar negeri, ketika sudah sampai tahap wawancara, ternyata kita tidak lolos. Seandainya lolos, memangnya kita sanggup hidup di negeri itu dengan bahasa, makanan, dan orang-orang yang asing? Memangnya kita akan mengerti pekerjaan apa saja yang harus kita lakukan dengan mendengarkan penjelasan atasan yang berbicara dengan bahasa asing itu? Memangnya orang-orang di perusahaan itu akan memperlakukan kita dengan baik?
Bayangkan jika harapan kita dapat bersekolah di negeri asing yang kita idam-idamkan dulu terkabul. Memangnya sanggup?
Apakah kita sanggup mendengarkan guru di depan kelas berbicara dengan bahasa asing selama enam jam setiap hari? Apakah kita akan mengerti apa yang mereka sampaikan ketika memberi tugas? Apakah kita tidak akan dikucilkan oleh teman-teman di kelas? Apakah kita sanggup menjalani hari-hari yang sepi di negeri asing tanpa tempat untuk menyandarkan kepala kita yang lelah kepada seseorang?
Saya juga membenci kalimat "pokoknya dijalani dulu" ketika hidup tidak sesuai yang kita inginkan. Kita yang memiliki sifat berontak, pasti selalu ingin kabur dari apa yang kita jalani sekarang untuk mengejar harapan yang terkabul.
Kata penyemangat seperti "semangat" pun sudah tidak ada artinya lagi ketika kita tenggelam dalam lautan keputusasaan. Namun, saya yakin, pasti kita berusaha untuk berenang ke permukaan dan kembali berlari di daratan untuk mengejar apa yang kita inginkan.
Bagian paling susah dalam mengejar harapan adalah bersabar. Kita masih memiliki banyak waktu jika kita mengabaikan prinsip "sebelum usia 30, pokoknya harus blabla". Selama kita berlari itu, kita akan menyaksikan orang-orang yang kita kenal mendahului kita. Mereka adalah orang-orang beruntung yang mungkin saja sudah menghadapi banyak ujian daripada kita, sedangkan kita adalah orang-orang yang sedang diuji oleh Sang Pencipta sebelum mendapat hadiah keberuntungan itu.
Wahai Sang Penguasa Masa Depan, bawalah kami kepada apa yang kami harapkan. Semoga harapan kami adalah yang terbaik di antara harapan lainnya.
Bersabar, berusaha, dan berdoa. Tetaplah berharap.
![]() |
| Image by wirestock on Freepik |
Reviewed by Aladdin
on
September 30, 2022
Rating: 5

