Terlalu Lama Melihat ke Atas

Terkadang saya berpikir. Apa kelebihan saya? Mengapa saya selalu tertinggal? 

Ketika melihat orang lain sudah mencapai titik yang lebih tinggi, saya selalu terdorong untuk memanjat ulang, membangun kembali tangga untuk mencapai titik yang mereka raih. Namun, di bawah, saya selalu terhenti oleh rasa pesimis yang luar biasa. Apakah saya bisa menyusul mereka? Pasti mereka sedang menertawakan saya dari atas sana.

Saya sudah terlanjur tertinggal jauh. Belajar dari awal pun, dengan waktu yang sedikit, pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menyusul mereka. Tidak ada jaminan mereka akan bertahan di sana selama saya mengajar. Ketika saya sudah mencapai titik itu, mereka pasti sudah mendaki ke tempat yang jauh lebih tinggi lagi.

Ketika saya bingung apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi pikiran ini, rasanya saya ingin bertanya kepada ibu.

Apakah keputusanku sudah tepat, wahai Ibu? Jika sudah tepat, mengapa aku tertinggal jauh? Aku merasa bodoh.

Meski berkali-kali ibu mengatakan bahwa ini adalah jalan terbaik yang pernah saya raih, tetapi susah rasanya untuk melihatnya dari kacamata saya sendiri. Apakah saya terlalu cepat untuk keluar dari dunia pelajar? Apakah saya terlalu cepat memasuki dunia kerja? 

Ibu, aku merasa hidupku berhenti. Bernyawa, tetapi tidak berjalan.

Saya sering memasang kalimat-kalimat motivasi di media sosial saya, tentunya untuk saya sendiri. Saya sering mengingatkan diri saya sendiri bahwa waktu pasti berlalu. Ada masa depan menanti yang siap memberi kejutan kepada saya. Di atas semua itu, ada Allah yang setiap saat membersamai langkah saya. Namun, tampaknya saya terlalu asyik mendongak ke atas, melihat telapak kesuksesan orang lain.

Saya harus melihat ke bawah. Melihat jejak kaki saya sendiri. Sejauh mana saya telah memanjat di tangga berpasir ini. Saya harus menyadarkan diri saya sendiri bahwa anak-anak tangga di atas tidak dapat terlihat karena tertutup oleh kabut nasib. Tanpa mencoba menginjakkan kaki di anak tangga yang lebih tinggi, saya tidak akan dapat memandang ke atas lebih jauh lagi. Ketika terasa berat, saya tampaknya memang harus sering-sering menengok ke bawah.

Meski terkadang menarik saya untuk melangkah lebih tinggi, nyatanya terlalu lama mendongak ke atas lebih sering memberi sesak di hati.

Saya harap saya bisa mencapai sebuah titik di mana saya menertawakan tulisan saya ini. 

Sampai jumpa di titik itu.

Salam.

No comments:

Powered by Blogger.