Pahit-Manis Tahun yang Menjengkelkan
Membuat rekap seperti ini adalah hal yang merepotkan. Namun, siapa tahu rekap ini akan berguna bagi saya di masa depan untuk mengingat masa-masa perjuangan dalam hidup. Saya juga ingin mengingatkan diri saya di masa depan agar janji atau komitmen yang saya buat pada tahun ini terjaga sampai masa depan.
Saya tidak menyangka bahwa tahun 2022 akan menjadi tahun yang bersejarah dalam kehidupan saya. Apa yang saya cita-citakan saat itu sempat terlihat amblas. Saya sempat menyesali keputusan yang saya pilih. Mau bagaimanapun juga, saya sudah tidak bisa keluar lagi. Pilihannya adalah menyerah dan mencari jalan lain yang belum tentu ada, atau melanjutkan dan menjalani apa yang telah saya dapat ini sambil bertahan dan mencari jalan baru. Berkat dukungan dari orang-orang terdekat, saya akhirnya bisa bertahan hingga saat ini.
Tahun 2022 diawali dengan mundurnya saya sebagai seorang pengajar bahasa Jepang di sebuah lembaga pelatihan kerja di Jogja karena sudah mendapat pengumuman bahwa saya diterima untuk bekerja di Jakarta Selatan. Namun, untuk mendapat panggilan kerja ternyata membutuhkan waktu lama. Melalui telepon, saya dihubungi untuk mulai bekerja pada tanggal 1 Juli yang membuat saya berangkat ke Jakarta pada akhir Juni. Saya sempat terdampar selama hampir tiga hari di daerah Blok M karena tak kunjung mendapatkan kos. Karena sudah harus check out dari hotel, saya memilih kos di daerah Cipete untuk sementara. Saya berniat untuk mencari kos pada bulan berikutnya dengan harga yang lebih murah dan lokasi yang lebih strategis. Seminggu pertama di kos adalah waktu terberat yang pernah saya rasakan. Tiba-tiba saya merasa seperti terpenjara di tempat itu. Bayangan masa depan saya menghilang, saya sempat berencana untuk menyerah. Perasaan-perasaan sesak yang menguasai dada itu terus menghantui saya selama lebih dari tiga bulan. Selama itu juga saya selalu berdoa agar rencana menyerah saya berjalan dengan lancar.
Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan “nggak terasa udah mau tahun 2023 aja”. Saya terpaksa mengorbankan banyak hal untuk mencapai akhir tahun 2022. Berdarah, retak, hancur, saya sangat dekat dengan mereka. Setiap hari seperti memiliki lebih dari 24 jam. Berkali-kali saya kelelahan sebelum berganti hari. Menangisi sambil menertawai diri saya sendiri yang terombang-ambing oleh ombak masa depan. Ketika sudah tidak sanggup melawan energi negatif itu, saya menghubungi orang-orang yang bisa saya hubungi melalui telepon. Mendekati bulan keenam, saya sudah bisa menertawai betapa lemahnya saya dulu sambil berenang ke permukaan untuk menjemput cahaya yang menunjukkan jalan menuju masa depan.
Bulan keenam, bulan Desember, adalah bulan yang paling berwarna di antara enam bulan itu. Bulan tersebut diawali dengan pulang ke Jogja untuk mengikuti ujian kemampuan bahasa Jepang. Di sana, saya bertemu para adik tingkat yang ceria dan seorang teman lama yang sempat memiliki banyak drama dengan saya. Dengan kondisi badan yang mengkhawatirkan (akan jatuh sakit), saya mengikuti ujian tersebut. Benar saja, begitu ujian dimulai, kepala saya mulai terasa nyeri, badan meriang, dan batuk-batuk kecil. Saat perjalanan pulang pun, dengan kondisi badan yang semakin parah itu, saya kehujanan. Pada akhirnya, waktu yang tersisa di Jogja itu hanya bisa saya gunakan untuk beristirahat. Kesempatan untuk bercengkerama dengan keluarga menghilang. Tidak berhenti di situ, pada malam Senin ketika saya berada di dalam kereta untuk kembali ke Jakarta, saya dikejutkan dengan kabar yang membuat saya (lagi-lagi) merasakan patah hati. Anehnya, saya dapat pulih dengan cepat meski kabar itu masih menyelimuti saya dengan kesedihan hingga saat ini.
Setelah mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan itu, keajaiban menghampiri saya satu per satu. Beberapa hari setelah kembali ke Jakarta, saya mendapat kabar dari salah satu teman bahwa ia akan menginap di kos saya karena akan menghadiri sebuah acara di Depok. Kehadirannya seperti membawa angin segar ke dalam kehidupan saya. Pada akhir pekan, tepatnya hari Minggu pekan kedua, kami bersama teman-teman yang lain melangsungkan reuni kecil di Jakarta: makan makanan penguras dompet, berkunjung ke museum, membeli beberapa makanan tradisional, dan berkaraoke. Setelah acara itu berakhir, saya kedatangan satu teman lagi sehingga penghuni kos saya menjadi tiga orang. Kami mengobrol banyak pada malam Senin itu sebelum berpisah keesokan siangnya. Saya ke tempat kerja, satunya ke stasiun, dan satunya lagi ke perpustakaan.
![]() |
| Jajanan Tradisional di Sarinah |
![]() |
| Perpustakaan Nasional Republik Indonesia |
Tidak sampai satu pekan, saya mendapat kabar bahwa ada satu orang lagi yang akan berkunjung dan menginap di kos saya selama sepekan. “Satu bulan juga oke”, balas saya yang senang mendengar kabar itu. Meski harus saya tinggal selama tiga hari dua malam untuk perjalanan dinas, tetapi kehadirannya yang lebih banyak berada di kos benar-benar membawa energi positif yang dapat menenangkan suasana hati yang masih sedikit bergejolak akibat patah hati itu. Berkatnya juga, saya jadi menyadari bahwa dunia luar sangat mudah diakses dengan transportasi umum dari kos saya. Jalan kaki sejauh satu-kilo-lebih-sekian dari stasiun MRT terdekat pun semakin menjadi terasa tidak ada apa-apanya. Pada pekan ketiga, kami dipandu oleh seorang teman dekat untuk makan-makan di sebuah kafe di barat laut Monas dan menyantap menu penutup di tepi jalan Gajah Mada hingga pukul sepuluh malam. Keesokan siangnya, ia pamit untuk pulang dan menuju terminal bus. Setelah kepergiannya itu, saya langsung menantikan akhir pekan selanjutnya, yaitu pekan terakhir sekaligus hari-hari terakhir pada tahun 2022.
![]() |
| Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M |
Pada pekan terakhir, saya berkesempatan untuk pulang ke Jogja. Kali ini benar-benar pulang untuk berlibur karena sudah nyaris tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan dari rumah. Oleh karena itu, saya sangat menantikan momen bersama keluarga untuk menikmati liburan akhir tahun. Saya mengajak mereka untuk makan makanan (yang masih saya anggap mewah) all you can eat di sebuah restoran di daerah Nologaten. Seminggu sebelumnya, saya sudah mengajak adik-adik saya lewat pesan instan dan mereka menunjukkan reaksi yang meledak-ledak. Mereka tidak sabar untuk mencoba menu-menu yang dipanggang di atas kompor secara langsung dan mandiri itu. Sepulangnya dari sana, kami sempat mampir ke sebuah toko pakaian yang menawarkan harga “35 ribu all item”. Memanfaatkan jatuhnya harga itu, saya membeli beberapa potong pakaian untuk dibawa ke Jakarta. Menjelang petang, saya mengunjungi tukang potong rambut kebanggaan di kampung kami untuk memangkas rambut saya yang sudah tak terkendali lagi bentuknya ini. Pulang kampung kali ini terasa sangat memuaskan.
![]() |
| Kereta Senja Utama di Stasiun Pasar Senen, Jakarta |
Menit-menit terakhir tahun 2022 ditutup dengan me-time di kamar adik saya dengan menggulung lini masa Twitter sambil menyelesaikan tulisan ini.
Alhamdulillah. Selamat tinggal, 2022!




No comments: