Aroma Kedamaian
Setiap kali angin berembus menabrak punggungnya, ia berharap angin itu cukup kuat untuk mendorongnya ke depan. Ia mengayun-ayunkan kakinya dengan santai di atas luasnya jalan raya kota. Sejauh ini, tidak ada yang mengetahui bahwa ada seorang pemuda yang duduk di atas pagar atap hotel yang bentuknya seperti bangku beton yang biasa ada di taman-taman. Sesekali pemuda itu merentangkan kedua tangannya ke atas sambil menalikan jari-jarinya. Ia masih keheranan karena gerakan apa pun yang ia lakukan tidak dapat membuat badannya kehilangan keseimbangan. Ingin sekali ia terjun ke jalan raya yang dilintasi oleh kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi di bawahnya itu. Kalau tidak, ia berharap angin membuatnya mengantuk, kemudian kantuk membuat tubuhnya ambruk. Seterusnya, ia pasrahkan kepada tubuhnya sendiri ke mana arah ambruknya.
Namun, setiap kali pikiran seperti itu muncul, ia berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu jahat. Ia akan menjadi penjahat karena bisa membuat orang-orang yang berlalu-lalang di bawah terluka atau trauma melihat kejadian yang menyeramkan. Ia juga akan menjadi pendosa karena memusnahkan nikmat pemberian tuhannya. Pikirannya berputar lagi. Jika bukan dengan melakukannya, tidak ada jalan lain untuk keluar dari sesaknya dunia ini. Tidak memungkinkan untuk berdiskusi dengan orang tuanya mengenai apa yang ia rasakan saat ini, apalagi dengan ayahnya yang selalu menganggap permasalahannya hanya sepele sehingga hanya akan menjadi bahan tertawaan ayahnya yang baru saja menginjak usia setengah abad itu. Keluarga, kerabat, dan teman-teman semuanya terlanjur bangga dengan pencapaiannya saat ini: bekerja di ibukota. Pun kalau bisa keluar dari pekerjaan itu, ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk ia persembahkan kepada keluarganya, bahkan akan menjadi gunjingan tetangga dan orang-orang yang mengenal mereka. Terlebih lagi, ibunya sudah meminjamkan banyak uang kepadanya sebagai bekal di tanah perantauan. Apabila menyerah dan pulang dengan tangan kosong, ia pasti akan merasa sangat bersalah.
Pikirannya berkecamuk bagaikan sebuah daerah yang sedang mengalami pergantian musim. Angin-angin yang menerbangkan semua yang bisa diterbangkan memorak-porandakan jalurnya. Semua yang tersusun indah dan rapi langsung sirna. Sambil menatap gedung tinggi di kejauhan, ia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan kedamaian tanpa merugikan orang lain dan tanpa melihat wajah sedih dan kecewa orang tuanya. Berkali-kali ia berpikiran untuk menghentikan benda yang terus berdetak di dalam dadanya dengan cara yang tidak menyakitkan.
Matanya kembali memandang langit. Kali ini, ia arahkan ke langit yang dipenuhi oleh gumpalan-gumpalan hitam. Seandainya awan itu mengeluarkan listrik dan menyambarku, harapnya. Beberapa detik kemudian, sebuah aroma makanan masuk ke hidungnya, aroma yang dapat menggoda siapa pun ketika lapar, aroma mie instan. Ia melihat ke sekelilingnya. Tidak ada orang. Berarti, aroma itu berasal dari bawah sana, dari sebuah rumah makan. Aroma ini mengingatkan kepadanya tentang sebuah momen ketika ia menyantap mie instan di sebuah warung makan sederhana sambil menunggu hujan reda. Ingatan itu seperti mencekik lehernya dan mengeluarkan satu-dua butir air mata secara paksa dari ujung matanya. Ia kini menyadari bahwa masa-masa yang ia anggap menyebalkan saat itu ternyata menjadi salah satu momen terbaiknya dalam hidup. Apakah kalau berhenti bekerja, pulang, dan memakan mie instan di tempat itu lagi akan membawa dirinya kepada kedamaian? Ia bertanya-tanya sendiri dengan suara yang lirih.
Dahulu, ia sering ditegur oleh ibunya hanya karena memasak mie instan. Jangan terlalu sering, kata sang ibu. Ia selalu menepis teguran itu karena menurutnya memakan mie instan dua kali seminggu tidak buruk-buruk amat. Nggak sehat, jawab ibunya ketika ia pertama kali bertanya mengapa tidak boleh keseringan memakan mie instan. Katanya, anak dari teman ibunya ada yang sampai dirawat di rumah sakit karena keseringan memakannya. Teguran ibunya itu ternyata efektif. Ia sendiri sampai lupa kapan terakhir kali memakan mie instan.
Bibirnya tiba-tiba merekah hingga hampir menampakkan gigi depannya. Matanya yang sayu mulai menjadi segar. Daripada begini, lebih baik membeli beberapa dus mie instan untuk dimakan setiap hari. Lalu, bagaimana dengan uang ibu? Satu pertanyaan muncul lagi di benaknya. Ia harus mengembalikan uang belasan juta itu terlebih dahulu sebelum menjalankan rencananya. Ia berniat untuk bekerja dengan serampangan dan sekadarnya saja, yang penting bisa bertahan sampai uang sebanyak itu masuk rekening. Amarah atasannya ketika ia bekerja tidak becus bisa saja menjadi suntikan semangatnya untuk mencapai cita-cita kecilnya itu.
Sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari lobi hotel, hari esok terasa lebih indah. Ia menyambut berjalannya waktu yang sempat terhenti tadi dengan riang. Dunia luar sudah tidak menakutkan lagi. Ia hanya tinggal berfokus pada tujuan hidupnya: mendapatkan banyak uang untuk dikembalikan ke ibu dan memakan mie instan setiap hari.

No comments: