Sampai Jumpa Lagi, Malang!

Salah satu hal yang ingin kulakukan pada tahun ini adalah bepergian ke Malang, Jawa Timur. Alhamdulillah, keinginan tersebut dapat terlaksana berkat adik sepupu perempuanku yang berwisuda pada akhir Januari 2023.

Kamis sore setelah acara di Tangerang Selatan berakhir, aku membeli dua tiket kereta api kelas ekonomi jurusan Yogyakarta yang berangkat dari Jakarta (Stasiun Pasar Senen) dan jurusan Malang yang berangkat dari Yogyakarta. Aku dan adik-adik kandungku (3 orang) berangkat pada pukul sembilan malam dan tiba di Malang pukul tiga pagi. Stasiun Malang (Kota Baru) pada pagi buta itu cukup sepi. Seingatku, penumpang kereta api harus melewati lorong bawah tanah untuk keluar dari stasiun. Namun, saat itu kami justru menaiki eskalator, berjalan melalui penyeberangan layang, dan turun dengan eskalator untuk mencapai pintu keluar stasiun. Ternyata, lorong bawah tanah itu masih ada, tetapi kini sudah dibangun penyeberangan layang dengan eskalator untuk memudahkan mobilitas penumpang untuk masuk ke peron dan keluar dari stasiun. Penyeberangan itu mengingatkanku pada Stasiun Bandung dan membuatku takjub sambil berpikir: stasiun Jogja kapan ya? Namun, setelah turun dari penyeberangan itu, tidak ada yang spesial yang bisa dilihat. Tidak semeriah Stasiun Yogyakarta dengan interior barunya; bangkunya yang berjejer-jejer di depan kios-kios makanan ringan-berat, minimarket, dan oleh-oleh yang tampak bersih; dan lampu-lampu estetisnya yang tidak pernah absen menerangi setiap sudutnya. Meski begitu, Stasiun Malang menyajikan satu hal yang mungkin tidak dimiliki oleh stasiun lainnya, yaitu udara sejuk yang dengan cepat memeluk badan kami begitu keluar dari gerbong kereta. Sambil mengabaikan keluhan adik perempuanku yang kedinginan, kami mencari-cari adik sepupu perempuan yang katanya sudah berada di depan stasiun untuk menjemput kami. Setelah kutelepon, akhirnya kami bertemu dengannya dan ibunya. Pagi yang gelap itu berganti menjadi hari yang terang dengan sekejap.


Seperti yang temanku bilang, dari banyaknya kendaraan yang tumpah di jalanan, sepertinya tidak jauh berbeda dengan Jogja. Namun, yang membuat kota ini tampak sesak adalah jalan rayanya yang suempit (sangat sempit). Pada Sabtu siang itu, setelah melepaskan kelelahan yang kami bawa sepanjang perjalanan dari Jogja, aku bersama tiga adik kandung dan dua adik sepupuku bepergian ke Kota Batu, sebuah kota yang sering disalahartikan sebagai bagian dari Kota Malang. Kami berniat untuk mengunjungi sebuah wisata alam berupa air terjun yang ada di dataran tinggi Batu. Sayangnya, langit yang dari tadi mendung mulai menumpahkan airnya. Adik sepupu perempuan kami, sambil memegang roda kemudinya, menawarkan kami untuk makan siang di kafe saja. Meski sedikit kecewa, kami tidak punya pilihan lain sehingga hanya sanggup mengiyakan tawaran itu. Jalan yang kami lalui sampai ke kafe itu tidak pernah lebih dari satu dua lajur. Mobil yang kami tumpangi sering kali harus melambat karena berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan di bagian jalan yang sempit. Aku masih mengingatnya dengan jelas, jalan paling lebar yang kami lewati itu hanya selebar Jalan Gito-Gati di Sleman. Jalan itu halus dan dilewati kendaraan-kendaraan roda empat dengan kencang. Namun, ketika menuju kembali ke Malang, jalan itu menyempit meski jumlah kendaraan yang melintas tampak tidak bertambah. Gawat, pikir kami. Jika seperti ini terus, waktu tempuh kami akan semakin panjang padahal adik sepupu kami harus tiba di kampus dalam waktu kurang dari satu jam untuk mengikuti kegiatan gladi resik wisudanya. Sementara itu, jarak yang masih harus kami tempuh adalah 20 kilometer. Awalnya, aku menganggap remeh ketika tante dan temanku berkata bahwa jalanan di Malang sempit-sempit. Karena tiba di Malang pada pukul tiga pagi, jalanan yang sempit tidak dapat kulihat dengan jelas. Namun, ketika kami pulang dari Batu ke Malang pada siang hari, jalanan itu benar-benar menjepit para penggunanya.

Lalu Lintas di Malang

Sejak menginjakkan kaki di Malang, aku tidak sabar untuk mencoba mengendarai motor atau mobil di jalanan Malang. Aku ingin merasakan interaksi dengan orang lain di jalan. Apakah jalanan di Malang sangat kacau seperti di Jakarta atau sama saja dengan di Jogja. Aku pun tidak sabar untuk berpapasan dengan mobil lain di jalan sempitnya. Memangnya sesempit apa, sih? pikirku. Kesempatan itu akhirnya datang ketika aku harus membawa adik-adik kandung dan sepupu pergi ke Universitas Brawijaya untuk menghadiri wisuda adik sepupuku yang satunya (anak pertama dari adik ibu). Pertama-tama, kami harus melewati jalan antarkompleks yang lebarnya tidak lebih lebar dari jalan Candi Gebang, Condongcatur, Sleman. Ketika berpapasan dengan mobil lain, salah satunya harus mencari sisi jalan yang agak lebar untuk mempersilakan mobil dari arah yang berlawanan untuk lewat.

Dari rumah tante ke Universitas Brawijaya hanya berjarak tiga sekian kilometer. Tidak begitu jauh, tetapi rasanya waktu tempuh terasa begitu lama. Mobil yang kami kendarai tidak pernah melewati angka 40 km/jam. Setelah akhirnya keluar dari jalan antarkompleks dan Jalan Joyo Tambaksari, kami memasuki Jalan Sumbersari. Jalan yang tidak selebar Jalan Palagan di Sleman ini merupakan jalan yang diapit oleh Universitas Brawijaya (dengan luasnya yang luar biasa) dan UIN Maulana Malik Ibrahim. Pada hari kerja, pasti jalan ini akan sangat penuh oleh para pelajar, begitu yang kuyakini. Jalan ini berujung pada simpang empat. Apabila pergi ke barat sedikit, kita bisa menemukan Institut Negeri Malang yang dari luar lebih terlihat seperti sebuah kantor pemerintahan. Apabila lurus ke selatan, kita bisa menemukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kampus II. Simpang empat ini mengingatkanku pada momen ketika aku mengikuti ujian kemampuan bahasa Jepang di Gedung A, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya beberapa tahun yang lalu.

Mencari tempat untuk memarkir mobil di kampus ini ternyata tidak sesulit yang kuduga. Pengendara lain sangat pengertian sehingga memberikan jalan untuk mobil kami ketika aku harus memosisikan mobil di tepi jalan berpaving yang diapit oleh Fakultas MIPA dan Fakultas Ilmu Budaya. Selain itu, petugas-petugas di sana dengan ramah membimbing kami untuk berbelok dan menunjukkan jalan. Acara wisuda itu akhirnya berakhir menjelang duhur.

Awalnya, kami berencana pulang melalui Jalan Veteran dan menuju pertigaan Jembatan Suhat, tetapi karena ada demo Aremania, kami harus berputar. Kami menuju ke selatan, memutari bundaran ujung Jalan Ijen, dan memasuki Jalan Veteran lagi. Di simpang empat yang kusebut di atas, kami melalui Jalan Sumbersari. Di sana, akhirnya aku merasakan macet lagi tetapi kini sebagai pemegang kemudi.

Sejak merantau di Jakarta, aku suka membanding-bandingkan kondisi lalu lintas antarkota. Sejauh ini, kondisi lalu lintas Jakarta adalah yang terburuk yang pernah kulihat. Bukan karena macetnya, tetapi karena ketidaktaatan dan ketidaksabaran pengendaranya.

Untungnya, Malang tidak berbeda jauh dengan Jogja. Di persimpangan yang padat di dekat gerbang masuk Universitas Brawijaya kendaraan-kendaraan mengantre dengan sabar dan rapi. Tidak ada yang terburu-buru dan tidak ada yang menekan-nekan klakson untuk menyuruh kendaraan di depannya agar cepat meluncur. Mobil yang kebingungan mencari tempat—apakah mengantre di lajur tengah atau paling kanan—pun tidak diintimidasi dan didesak oleh kendaraan-kendaraan di belakangnya. Padahal, kendaraan-kendaraan yang satu arah dengan kami ini akan memasuki jalanan yang sempit. Seharusnya mereka saling berebut posisi antrean paling depan seperti di Jakarta, bukan?

Para pengendara motor pun berkendara dengan hati-hati. Mereka tidak kemrungsung ketika mencari posisi untuk mengantre di persimpangan lampu merah. Di jalan yang sempit, mereka tidak asal melaju meski terdapat sedikit celah yang mampu mereka manfaatkan. Ketika aliran lalu lintas di jalan sempit terhenti gara-gara ada dua mobil yang berpapasan, para pengendara roda dua itu bahu membahu untuk membantu dua mobil itu mencari jalan keluarnya. “Stop, stop! Mundur dulu, Pak!” teriak salah satu pengendara motor kepada seorang pengendara mobil. Bumper depan mobil yang ia kendarai hampir mencium pagar beton rumah warga yang agak menjorok ke jalan. Betapa hangatnya perasaanku saat itu hingga aku terdorong untuk ikut mengarahkan pengendara mobil tersebut. Nahas, ketika mobil tersebut mundur, bumper belakangnya menabrak roda depan sepeda motor di belakangnya. Aku mengira pengendara yang motornya bersentuhan dengan mobil itu akan marah dan memaki-maki pengendara mobil. Namun, yang terjadi berikutnya adalah sebuah keindahan di tengah guyuran hujan ringan.

Pengendara motor lain, yang sedang menunggu mobil itu untuk berjalan dengan sabar dan yang sedang membantu memberikan aba-aba kepada pengendara mobil itu, justru memerintahkan pengendara motor yang motornya bersentuhan dengan mobil tadi untuk mundur agar mobil itu mendapat ruang untuk mundur. Setelah mobil itu berhasil melaju kembali, lalu lintas di jalan sempit itu kembali mengalir. Guyuran hujan ringan di jalan sempit di Malang benar-benar menjernihkan suasana hatiku.

Medhok Everywhere dan Keramahannya

Aku tidak banyak berinteraksi dengan orang lain di sana kecuali dengan mereka yang bekerja di tempat umum. Masih belum berhenti memberikanku kejutan, Malang menunjukkanku orang-orangnya. Interaksi pertamaku dengan orang lain adalah saat di sebuah kafe di dekat Jembatan Soekarno-Hatta. Di kafe itu, aku Ketika aku dan teman-teman mengunjungi salah satu restoran bergaya Jepang, kami disambut oleh karyawan laki-laki, logat medhok-nya terasa, tetapi samar-samar. Baru ketika kami memasuki sebuah toko roti di utara Jalan Ijen, terdengar logat medhok yang cukup jelas dari seorang karyawati yang sedang melayani pembeli di meja depan.

Karena masih ingin menghabiskan malam yang tersisa, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke tempat karaoke. Di sana, kami disambut oleh seorang karyawati yang dengan ramah menanyakan fasilitas karaoke yang kami inginkan dengan logat medhok-nya. Pada saat itulah aku menyadari bahwa aku merasa seperti di kampung halamanku, di mana orang-orangnya berlogat medhok ketika berbicara dengan bahasa Indonesia.

Pada Minggu sore, aku menuju Stasiun Malang menggunakan ojek daring untuk kembali ke Jakarta. Pak Ojek ternyata sudah tiba di depan rumah tante sebelum aku siap. Saat itu ternyata hujan ringan sehingga aku sempat kebingungan apa yang harus kulakukan karena aku tidak membawa jas hujan. “Wonten mantol’e, Pak?” tanya tanteku dengan bahasa Jawa kromo inggil yang dibalas dengan, “Wonten, Bu.” Jujur saja, aku sempat pasrah ketika Pak Ojek menjadi kesal karena terlalu lama menungguku yang belum siap itu. Pikiran negatif ini kuyakini datang dari pengalamanku di Jakarta di mana orang-orangnya banyak yang terburu-buru dan mudah marah apabila keinginan mereka tidak terwujudkan. Namun, Pak Ojek yang mengantarku ke Stasiun Malang ini mencerminkan sosok seorang ayah sejati. Aku tidak pernah menyangka beliau akan turun dari motornya, membuka jok, mengambilkan jas hujan, dan menyerahkannya padaku yang masih berada di teras rumah. “Ini, ya, Mas. Ada celananya juga,” katanya dengan logat medhok, gaya bicara yang sangat ramah, dan nada yang lembut. Beliau menungguku sampai aku mengenakan jas hujan dan helm dengan sempurna lalu berjalan di depanku untuk menuju motor yang diparkir di depan pagar rumah.

Berbeda dengan di Jakarta, tetapi sama dengan di Jogja, Pak Ojek itu mengendarai motornya dengan hati-hati, sabar, dan mengutamakan kenyamanan penumpangnya. Beliau tidak asal mendahului kendaraan-kendaraan di depannya, tidak menyerobot melalui celah-celah di antara mobil, dan tidak memukul-mukul klaksonnya. “Masnya terburu-buru nggak? Saya isi bensin dulu ya, Mas. Masnya nanti nggak perlu turun dari motor,” kata beliau sambil berkendara dengan kecepatan sedang.

Aku tiba di stasiun 40 menit lebih awal dari jadwal keberangkatan sehingga aku bisa mengambil beberapa foto di stasiun dan membeli beberapa makanan ringan di minimarket di dalam area stasiun. Di balik meja kasir yang terdapat di samping rak-rak makanan ringan yang sempit itu, seorang pegawai perempuan langsung membantuku untuk mengemasi apa yang kubeli, “Sudah? Ini saja, Mas?” tanyanya dengan menggunakan logat medhok yang sangat menekankan pelafalan huruf d-nya. “Hmm, apalagi ya? Sudah, Mbak,” jawabku sambil berusaha memberikan senyuman melalui mata.

Di antara yang telah kuceritakan itu, masih ada beberapa yang tidak kuingat. Yang jelas, di tempat umum, rasanya aku lebih banyak menemui orang yang melayani publik dengan logat medhok di Malang daripada ketika di Jogja. Entah masyarakat Jogja yang lebih pandai menyembunyikan medhok-nya atau kebetulan saja orang-orang yang tidak sengaja berinteraksi denganku di Malang adalah orang-orang yang memegang teguh identitas lokalnya.

Intinya, setelah berinteraksi dan merasakan pengalaman itu, aku merasa menjadi sangat akrab dengan Kota Malang. Tanpa sadar, mataku berair ketika kereta tujuan Jakarta berangkat dan membelah permukiman padat di pinggiran Kota Malang.

Universitas Brawijaya (UB)

Ketika masih SMP dan SMA, aku pernah mendengar sebuah obrolan tentang bagaimana menyebutkan nama singkat universitas terbaik di Malang ini. Kata tante, saat itu ada yang menyebutnya dengan Unibra, tetapi rasanya agak lucu jika disebut dengan nama itu sehingga beberapa orang menambahkan satu huruf di belakangnya menjadi Unibraw. Setelah menjadi mahasiswa, aku menjadi tahu dari teman-teman bahwa kini sebutannya adalah UB. Aku selalu menganggap universitas ini sebagai universitas besar yang dapat dibanggakan oleh siapa saja ketika menjadi bagian darinya. Aku pun kalau di masa depan nanti menjadi dosen tetap di UB aku akan merasa senang dan bangga meski setiap ke kampus harus melalui jalan sempit yang macet.

Universitas Brawijaya memiliki gerbang depan yang begitu unik. Gapuranya memiliki bentuk dan tema yang sangat cocok dengan Kota Malang. Jika belum pernah mengunjungi kampus ini, bisa saja kita tidak dapat melihat pintu masuk ini karena posisinya menjorok ke sudut persimpangan Jalan Veteran dan Jalan Sumbersari.

Jika dilihat di Google Maps, kampus ini memiliki lahan yang luas. Namun, ketika sudah masuk ke dalam area kampus, terasa tidak seluas yang dibayangkan. Ketika melewati Fakultas MIPA untuk mencari tempat parkir, tidak terasa aku sudah berada di depan fakultas lain, yaitu Fakultas Ilmu Budaya. Sejurus kemudian, aku sudah berada di dekat gedung rektorat. Apabila terus ke timur dan mengitari bundaran untuk menuju ke selatan, aku akan bertemu dengan area Fakultas Kedokteran. Karena letak antarfakultas berdekatan, para mahasiswa di sini bisa bermain dengan teman dari fakultas lain tanpa mengambil motor terlebih dahulu untuk menempuh jarak yang jauh. Selain itu, karena semua fakultas terletak di dalam area kampus dan tidak perlu keluar ke jalan raya, mahasiswa yang berpindah-pindah tempat akan merasa lebih aman dan nyaman.


Bangunan-bangunan di kampus ini tampak cukup tua karena mempertahankan eksistensi lamanya yang masih kokoh berdiri hingga sekarang. Tidak terlihat ada pembangunan gedung baru di sepanjang mataku menyisir di depan gedung rektorat. Mungkin ada satu-dua gedung baru tetapi tidak terlalu mencolok di tengah gedung-gedung lainnya karena arsitekturnya masih mengandung unsur-unsur lama sehingga tampak berbaur di lingkungannya berdiri. Jika dihadapkan dengan kampus di Jogja yang pernah kukunjungi, bangunan-bangunannya tampak seperti bangunan Universitas Negeri Yogyakarta. Adikku pun berkomentar demikian, “Kayak UNY,” katanya ketika kami duduk-duduk di depan Fakultas MIPA untuk menunggu adik sepupu yang masih berfoto-foto untuk menciptakan kenangan tentang wisudanya. Kalau di UGM, mungkin bisa disamakan dengan gedung FEB yang terletak di sebelah utara FIB persis. Bisa juga disamakan dengan Gedung A dan Gedung B FIB yang katanya akan dihancurkan untuk dibangun gedung baru sebagai penyeimbang Gedung Sugondo. Beberapa bangunan di UB ini pun ada yang tampak seperti bangunan di SMK Depok 1 Yogyakarta. Aku penasaran tentang suasana yang akan tercipta ketika mahasiswa sudah kembali dari libur mereka.


Selain berada di Malang yang udaranya relatif sejuk, UB juga memiliki banyak pepohonan yang memayungi sebagian besar lahannya. Ketika berjalan-jalan di jalan yang membelah fakultas-fakultasnya, udaranya terasa sejuk dan menyegarkan mata. Eyup, begitulah jika digambarkan dengan sebuah kata dalam bahasa Jawa. Siapa pun betah untuk menongkrong bersama teman-teman di kampus ini, kecuali mereka yang salah jurusan, mungkin.



Cilok Malang

Ketika masih tinggal di Jogja, aku cukup sering (hampir seminggu sekali) membeli cilok di dekat rumah jika ditawari adikku, “Mas, ayo beli cilok.” Cilok yang dilumuri dengan saos dan kecap atau dengan sambal kacang itu terasa pas di lidahku. Teksturnya pun lembut dan tidak susah untuk dikunyah. Sayangnya, ukurannya terlalu besar sehingga mulut mudah lelah jika mengunyah 2 porsi cilok seharga Rp10.000. Rasa dasarnya adalah manis-manis-pedas.

Saat kami bersantai di dalam area Universitas Brawijaya yang sedang menggelar wisuda mahasiswanya itu, kedua adikku membeli cilok yang dijual oleh penjual yang menjajakan dagangannya dengan sepeda onthel. Saat aku menusuk satu butir ciloknya untuk kumasukkan ke dalam mulutku, aku tidak berharap apa-apa. Namun, ternyata begitu kukunyah, rasanya kepalaku berbunga-bunga karena terkejut dengan rasanya.

Cilok Malang yang kucicip saat itu memiliki bentuk yang lebih kecil dari biasanya dan lebih kenyal. Rasa pedas yang dilumurkan ke butir-butir cilok itu terasa lebih natural, lebih pedas, dan lebih dalam. Itu adalah cilok terenak yang pernah kucoba. Inilah salah satu yang masih membuatku belum puas mengunjungi Malang. Rasanya masih mengganjal di hati sampai saat ini. Lain kali, aku harus banyak-banyak merasakan street food-nya.

Kereta Api Brawijaya (Malang-Jakarta PP)

Salah satu kereta jurusan Malang yang pernah kunaiki adalah Gajayana kelas ekskutif. Sama seperti kereta-kereta eksekutif yang pernah kunaiki lainnya, fasilitas yang ditawarkan hampir sama. Mungkin malah tidak ada perbedaannya. Namun, Gajayana selalu kuanggap lebih nyaman daripada kereta seri Argo, Senja Utama, dan Fajar Utama. Kenyamanannya berimbang dengan Taksaka dan Bima.

Saat memilih kereta Malang-Jakarta, alih-alih memilih berdasarkan nama kereta yang tersedia, aku memilih yang cocok dengan waktu keberangkatan yang kuinginkan. Aku ingin pulang dari Malang semalam mungkin, tetapi tidak ada kereta jurusan Jakarta kelas eksekutif yang lebih malam dari kereta Brawijaya yang berangkat pada pukul 16.00. Sebenarnya ada satu kereta yang berangkat pukul 18.30, tetapi berkelas ekonomi yang menuju Stasiun Pasar Senen. Namun, karena perjalanan Malang-Jakarta memakan waktu rata-rata dua belas jam, aku harus memilih kelas eksekutif demi kesehatan punggung dan lutut. Selain itu, kereta eksekutif memberiku kenyamanan untuk tidur ketika esoknya sudah harus berangkat bekerja.


Aku sempat lupa kalau aku akan kembali ke Jakarta menggunakan kereta Brawijaya, bukan Gajayana. Oleh karena itu, aku juga mengira bahwa gerbong-gerbong Brawijaya akan tampak mengkilap dan modern dengan bentuk yang lebih mengotak (seperti Taksaka, Argo Dwipangga, Fajar Utama, Senja Utama, dan Bima) dibandingkan kereta-kereta lainnya. Namun, ternyata yang akan kunaiki di peron 3 itu adalah kereta dengan bentuk lama. Atapnya masih cembung dan bagian sampingnya tidak mengkilap dengan cat putih yang agak luntur. Tirai jendelanya pun masih menggunakan tirai kain tipis berwarna biru, bukan tirai yang ditarik turun berbahan non-kain. Untuk kursinya, sama seperti kereta-kereta eksekutif lainnya: berlapis kulit, berwarna biru-putih, dapat dimiringkan ke belakang, memiliki meja lengan, dan memiliki sandaran kaki. Ada satu ketidaknyamanan yang sangat terasa di kereta ini, yaitu absennya “mode tidur”. Aku menyebutnya mode tidur karena ketika melewati pukul sembilan malam, kereta akan mematikan lampu utama dan menyisakan lampu LEDnya sehingga dalam kereta lebih redup dan tampak seperti menggunakan lampu tidur. Mungkin karena masih menggunakan gerbong lama, kereta Brawijaya belum menggunakan jenis dan susunan lampu terbaru. Bentuk lampunya pun masih seperti bentuk lampu di dalam bus tahun 2000-an. Sayang sekali, seharusnya kereta api jarak (super) jauh kelas eksekutif jurusan Jakarta-Malang dibuat lebih nyaman dan mewah. Kereta Mataram kelas ekonomi jurusan Jakarta-Jogja yang menjadi langgananku pun memiliki mode tidur yang membuat penumpangnya dapat tidur dengan lebih nyenyak.


Toilet di kereta ini hanya ada satu di setiap gerbongnya sehingga tidak ada pemisahan laki-laki dan perempuan. Namun, yang mengejutkan adalah toiletnya justru jauh lebih mewah dari kereta-kereta yang kupuji-puji di atas. Ini adalah kereta dengan toilet termewah yang pernah kumasuki. Di dalamnya terdapat toilet duduk dan wastafel yang dipasang sedemikian rupa sehingga tampak estetis. Mungkin karena perjalanan jauh dan banyak penumpang, air di beberapa toiletnya habis menjelang Subuh. Beberapa penumpang tampak kerepotan ketika akan buang kecil dan berwudu. Untungnya, masih ada air di beberapa toilet di gerbong lainnya.

Berkat kereta Brawijaya, aku mendapat pengalaman baru dalam bepergian menggunakan kereta. Ternyata, kereta Brawijaya tidak melewati Jogja sehingga berbelok ke utara setelah melewati Stasiun Solo Jebres untuk menuju ke Semarang. Selama berada pada jalur di antara dua stasiun itu, sering kali ponselku kehilangan sinyal sehingga cukup menyulitkanku dalam menggulung lini masa media sosial untuk membunuh kebosananku. Kalau bukan perjalanan malam, aku sudah bisa melihat pemandangan baru dari Stasiun Solo Jebres hingga stasiun di Jawa Barat. Meski begitu, kereta Brawijaya menjadi penutup kisah liburanku ke Malang yang unik.

No comments:

Powered by Blogger.