Selamat Tinggal, Seperempat Abad!
Semakin bertambah usia, sudut-sudut pandang lain tentang bagaimana mengatasi persoalan hidup semakin bertambah juga. Misalnya saja ketika memikirkan soal kematian. Kini, yang terpikirkan bukanlah tentang bagaimana kesedihan akan berkumpul di dekat jenazah kita, tetapi bagaimana mempersiapkan kematian yang indah. Begini, bukankah kita semua ingin leha-lehe tetapi tetap dapat menikmati segala kenikmatan dunia yang mahal ini? Nah, kita tinggal mewujudkannya di surga. Alangkah indahnya jika di surga nanti kita tidak perlu capek-capek bekerja tetapi mendapatkan semua yang kita minta. Untuk mencapai surga, tinggal rajin-rajin beribadah sambil bekerja atau melakukan kegiatan sehari-hari. Apabila kita dipanggil Allah ketika sedang beribadah demi mendapatkan surga, bukankah kematian kita akan menjadi kematian yang indah?
Baiklah, topik di atas terlalu gelap. Mari kita ganti topik.
Ketika kita jatuh cinta, tetapi orang yang kita sukai ternyata tidak memberikan perasaan yang sama, terkadang kita memilih untuk move on. Berusaha melupakan, mengabaikan, atau bahkan menghilangkan kehadiran orang tersebut di dalam kehidupan kita. Mungkin dengan begitu, perasaan suka yang menguasai diri kita akan hilang, dan kita bisa menikmati hidup seperti sedia kala tanpa dihantui perasaan galau. Namun, kini saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Bagi saya, gerakan move on justru merupakan bentuk pelanggaran komitmen. Jika saya sekarang sedang menyukai seseorang, meski belum/tidak terlihat apakah orang tersebut memiliki perasaan yang sama kepada saya, saya akan terus berdoa kepada-Nya agar kami dipersatukan oleh rahmat-Nya. Meski apa yang ia lakukan tampak seperti menyakiti saya, saya akan tetap bertahan dan berdoa. Saya menolak untuk move on, menolak untuk mencari yang lain, karena itu adalah bentuk komitmen saya. Ia sudah menjadi bagian dari cita-cita saya dan saya tidak boleh menyerah begitu saja. Namun, saya tetap harus menyadari bahwa keputusan akhir ada di tangan Sang Pencipta. Sampai keputusan akhir itu diketok, pokoknya saya akan terus berusaha, berharap, berdoa, dan tidak menyerah. Kalau dikit-dikit move on, kan nggak setia namanya, pikir saya.
Yah, topik di atas terlalu cringe. Kita ganti lagi.
Kita pasti memiliki banyak keinginan mewah seperti menggelar tikar di atas rumput di bawah pohon sakura, menjadi seorang bos perusahaan yang perusahaannya ditinggal kedip saja sudah bisa mendapatkan uang jutaan, atau membangun rumah impian di kota kecil yang damai. Memiliki keinginan mewah bukan hal yang salah, tetapi jika tidak segera terwujud, bukankah akan membuat kita merasa dunia ini jahat? Oleh karena itu, saya mencoba untuk membuat daftar keinginan lebih banyak lagi, dari yang mewah hingga sederhana. Setiap keinginan selalu saya sertakan di dalam setiap doa. Misalnya, ketika tiba-tiba ada jadwal kegiatan (bekerja) pada hari Sabtu padahal saya sudah terlanjur beli tiket kereta untuk pulang kampung yang berangkat pada Jumat malam, saya selalu menggantungkan harapan pada doa yang saya panjatkan di sela-sela waktu. Saya terus berharap dan berdoa hingga menit-menit terakhir sebelum saya harus memutuskan untuk menarik tiket kereta (cancel) itu. Ajaibnya, kegiatan saya diakhiri oleh atasan pada Jumat malam, dua jam sebelum keberangkatan kereta saya. Berkat doa, rasanya keinginan saya terkabul satu per satu. Jika terjadi seperti ini terus, bisa saja keinginan-keinginan saya lainnya yang lebih besar dapat terwujud.
Terakhir, saya ingin mewujudkan satu hal. Pada usia ini, saya ingin berdamai dengan perasaan saya sendiri.
Topik terakhir ini muncul berkat salah satu adik tingkat saya yang entah bagaimana bisa mendapatkan ide untuk mengatakan "berdamai pada perasaan sendiri" kepada saya. Semacam gojekan tapi mengandung saran. Yah, saya akui perasaan saya semrawut sejak merantau. Perasaan menyesal, benci, eneg, putus asa, rindu, cinta, semua bertabrakan di satu titik di dalam kepala saya. Saya kesusahan menguraikan itu semua. Saya menghindari segala hal yang dapat menumbuhkan perasaan-perasaan itu. Saya bahkan sampai membisukan akun orang-orang yang membuat perasaan saya campur aduk di linimasa media sosial. Ketika hari berganti nanti, saya akan membuka semua akun yang saya bisukan dan mencoba untuk berdamai dengan perasaan-perasaan itu. Saya berharap dapat merasa biasa-biasa saja tanpa merasakan perasaan yang berkecamuk ketika bersinggungan dengan hal-hal yang sebelumnya dapat membuat saya merasa kacau. Misalnya saya ingin mengetahui kabar orang yang saya sukai tentang hari ini tetapi pesan kemarin sore saja belum dibalas, ya sudah, urungkan. Masih ada kesempatan lain untuk menanyakan kabarnya pada waktu yang lebih baik pula. Misalnya saya ingin segera merasakan rasanya menjadi mahasiswa lagi (dengan melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi) tetapi harus menunggu 3 tahun terlebih dahulu akibat kontrak kerja, ya sudah, nikmati waktu yang berjalan sambil mempersiapkan tulisan-tulisan yang bisa dijadikan bahan publikasi saat menjadi mahasiswa besok. Misalnya saya kebelet nikah tetapi belum memiliki uang dan tidak tahu caranya mencari jodoh, ya sudah. Sambil menunggu mendapat kesempatan berkuliah, sambil menabung untuk menikah. Pada akhirnya, semua saling berkaitan. Saya rasa hadiah paling manis yang saya terima pada ulang tahun saya hari ini adalah sebuah nikmat berupa kemampuan untuk berdamai dengan perasaan sendiri.
Selamat memasuki seperempat abad bagian kedua!
===
Oleh-oleh: Foto Stasiun Cikini, Jakarta Pusat (Jumat, 11/11). Pulang dari sebuah acara dengan kegiatan yang padat dan masih dipaksa berubah menjadi sarden.
No comments: