Mangafest 12 - Hari Kedua: Senang dengan Ketidakpuasan
Tidak ada cukup waktu pada hari kedua Mangafest. Saya harus sudah berada di stasiun pukul sembilan malam untuk kembali ke Jakarta. Sempitnya waktu yang saya miliki membuat saya memutuskan untuk berangkat ke GSP begitu dibuka. Sebelum keluar rumah, saya tiba-tiba mendapat pesan bahwa akan ada kegiatan rapat kerja daring pukul sebelas siang. Akibatnya, keberangkatan saya mundur setengah jam untuk mengangkut semua gawai yang dibutuhkan untuk rapat. Begitu tiba di timur lapangan GSP (tempat parkir yang sama seperti hari sebelumnya), saya menancapkan penyuara telinga ke ponsel kerja untuk mendengarkan jalannya rapat. Sebenarnya, saya berniat untuk berapat sambil berjalan-jalan di dalam area Mangafest. Saya membayangkan betapa enaknya duduk di atas rumput, melahap takoyaki, memandang panggung yang menunggu untuk diinjak para bintang tamu dengan latar belakang gedung GSP beserta langit mendungnya, sambil mendengarkan rapat. Namun, pada akhirnya saya memilih untuk tetap di tempat parkir karena saya harus membuka laptop untuk mengirim beberapa dokumen untuk dikirim.
Meski saya tiba pukul sebelas siang, area perwibuan itu sudah dipenuhi oleh para pengunjung, bahkan lebih ramai dibandingkan Sabtu sore. Saya sempat mengira masih belum banyak pengunjung yang datang karena cuaca sedang panas-panasnya meski lapangan GSP beratap langit mendung. Rapat daring itu berlangsung lama sehingga saya membawa ponsel saya ke musala. Bahkan setelah salat duhur di musala Al-Adab yang kini memiliki layar LED canggih sebagai penunjuk jadwal salat pun, rapat masih berlangsung. Namun, karena saya tidak ingin kehilangan banyak waktu lagi untuk menikmati Mangafest, saya membawa ponsel saya dan menghubungkannya dengan penyuara telinga nirkabel agar lebih fleksibel ketika berjalan-jalan. Sebelum tiba di loket tiket, rapat itu untungnya sudah berakhir. Perasaan lega menguasai tubuh saya. Saatnya menikmati Mangafest.
![]() |
| Beberapa kerajinan tangan yang sangat unik bagi saya |
Saya kira, tiket gelang yang masih saya kenakan sejak kemarin berlaku juga untuk hari ini. Ternyata, di gelang itu terdapat tulisan "Day 1" yang membuat saya harus bertanya kepada panitia di loket tiket apakah saya perlu meminta tiket gelang hari kedua. "Tinggal tunjukin QR code-nya saja, Mas," kata seorang panitia yang berjaga di gerbang masuk. "Tolong digelangkan yang rapi ya, Mas," kata saya setelah menunjukkan QR code sambil ragu-ragu apakah sebaiknya saya minta digelangkan oleh panitia perempuan saja agar tiketnya bisa melingkar di pergelangan tangan saya dengan rapi. Firasat saya benar, tiket yang ia gelangkan tidak menempel rapi di pergelangan tangan saya. Ah, mungkin ia grogi.
![]() |
| Dua tiket gelang melingkari dua pergelangan tangan |
Dengan dua tiket gelang melingkari pergelangan tangan saya, tiket hari pertama di tangan kiri dan tiket hari kedua di tangan kanan, saya memasuki ruang pameran komik untuk yang kedua kalinya. Kali ini, saya benar-benar membaca komik-komik itu satu per satu dan mencoba untuk memahami alur ceritanya dengan serius. Rasanya ada yang mengganjal apabila saya hanya melewati ruang pameran ini tanpa memberi perhatian kepada seluruh karya yang dipajang.
Tujuan saya berikutnya adalah stan makanan. Saking senangnya memasuki area keramaian Mangafest lagi, saya sampai melupakan makan siang. Bahkan ketika akan berangkat dari rumah, saya juga tidak memikirkan bagaimana dan di mana saya akan makan siang. Namun, setelah mengetahui bahwa siang itu ada penampilan coswalk di panggung, saya mengajak teman untuk membeli beberapa jajanan ala Jepang. Tanpa berpikir panjang, saya membeli takoyaki, sosis bakar mayones, dan segelas es teh. Mereka menjual oden juga, tetapi karena saya sedang tidak ingin makan makanan berkuah dan kedua tangan saya kerepotan membawa takoyaki dan sosis bakar itu, saya urungkan niat. Biasanya, saya akan berpikir beberapa kali sebelum memutuskan untuk membeli jajanan di Mangafest karena harganya relatif mahal. Mulai saat itu, saya bertekad untuk tidak memikirkannya, yang terpenting dapat menikmati momennya.
Jujur saja, takoyaki yang saya beli ternyata berukuran lebih besar dari yang biasa saya beli. Saya kira akan lebih memuaskan jika ukurannya besar, tapi ternyata tidak. Lebih repot untuk memasukkannya ke dalam mulut. Digigit secuil demi secuil pun rasanya kurang nikmat, meski pada akhirnya saya menggunakan metode ini untuk menghabiskan lima butir takoyaki yang saya beli itu. Selain itu, ternyata bagian dalamnya kosong bagaikan tahu bulat. Untungnya, sosis bakar mayones itu benar-benar mengobati kekecewaan sekaligus membungkam perut saya agar tidak berteriak kelaparan.
Tepat setelah jajanan itu selesai saya santap, pembawa acara di panggung utama mengumumkan bahwa acara coswalk akan segera dimulai dan menyuruh penonton untuk mendekat ke panggung. Kami pun yang pada awalnya hanya ingin duduk-duduk santai sambil menikmati acara panggung tidak dapat menahan diri untuk tidak mendekat ke panggung. Penonton lain mulai berdiri di dekat panggung sehingga kami yang di belakang mau tidak mau harus ikut berdiri dan mencari sudut pandang yang nyaman. Pada akhirnya, para penonton yang berada di depan panggung disuruh untuk duduk kembali oleh pembawa acara agar juri di belakang dapat melihat para peserta coswalk dengan jelas.
Saya berani memberikan pernyataan bahwa acara coswalk merupakan acara yang paling ramai pada hari itu. Semua mata tertuju ke arah panggung. Keseruan penampilan sebuah band dan dance cover tidak mampu mengalahkan meriahnya acara coswalk.
![]() |
| Para penonton acara coswalk Mangafest 12 |
Berbagai karakter dari gim maupun anime menunjukkan pesonanya masing-masing di atas panggung. Saya beruntung karena cukup mengikuti dunia gim dan per-anime-an sehingga masih mampu mengenali sebagian besar kostum-kostum yang dibawakan oleh para peserta itu. Penampilan cosplay yang paling menghebohkan adalah penampilan dari karakter One Piece: Ace dan Boa Hancock. Penampilan dua karakter ini memaksa penonton untuk berteriak-teriak karena penampilan fisiknya sangat wah. Perut lipat sembilan Ace dengan gerakan gelut-nya langsung disambut dengan teriakan-teriakan penonton. Begitu juga dengan karakter Boa Hancock, ia menyaingi kehebohan Ace dengan mempertunjukkan desain kostum yang "berani" di hadapan ribuan penonton.
![]() |
| Karakter Ace pada acara coswalk Mangafest 12 |
Meski lawannya adalah Boa Hancock yang menggemuruhkan lapangan GSP, Nilou (sebuah karakter dari gim Genshin Impact), jagoan saya, berhasil menjadi pemenang dalam kategori best female cosplayer. Desain kostumnya cukup rumit tetapi dapat dibuat tanpa meninggalkan detil-detil yang dibutuhkan untuk menonjolkan ciri khas karakternya. Selain itu, pembawaan karakter Nilou oleh peserta itu sendiri juga cocok. Keanggunannya ketika menggerakkan jemarinya untuk menirukan gerakan Nilou di gim juga berperan penting dalam menarik perhatian juri. Tampaknya, penonton lain pun juga puas terhadap keputusan juri dalam memilihnya menjadi pemenang.
![]() |
| Seorang cosplayer yang memeragakan karakter Nilou mendapat penghargaan best female cosplayer |
Setelah acara coswalk, sisanya adalah acara penampilan berbasis musik, seperti band, dance cover, grup idola lokal, dan DJ. Saya memutuskan untuk menonton penampilan band tersebut sebelum melanjutkan kegiatan saya lainnya di Mangafest. Band tersebut memilih lagu yang tidak begitu dikenal banyak kalangan. Yang jelas, pada akhir penampilannya, mereka membawakan lagu dari anime One Piece yang legendaris berjudul "We Are". Ketika lagu tersebut dimainkan, banyak pengunjung berlarian mendekati panggung untuk menyanyi dan melompat-lompat bersama.
Hari semakin sore, saya berkata kepada teman bahwa saya ingin membeli banyak pernak-pernik. Saya membeli beberapa gantungan kunci karakter dari seri anime yang saya kenal di stan milik adik tingkat sekalian meminta berfoto dengannya. Selain itu, saya juga membeli beberapa gantungan kunci karakter dari stan lainnya, dua buah figur akrilik berdiri, dan sebuah topi putih bertuliskan "血小板" (baca: kesshouban; arti: trombosit/keping darah) dengan warna teks hitam.
![]() |
| Beberapa pernak-pernik yang saya beli di stan komunitas |
Tidak ingin ada rasa kurang puas saat pulang ke rumah, saya berkeinginan untuk berfoto dengan para cosplayer. Kebetulan, teman saya juga ingin difotokan dengan salah satu karakter favoritnya sehingga kami berdua memutuskan untuk "memburu" karakter favorit kami. Meski pada akhirnya saya mendapat dua foto, saya belum bisa berfoto dengan karakter favorit saya yang nomor satu. Kami sempat ingin mengejarnya, tetapi ia berjalan terlalu cepat ke arah kerumunan sehingga ia menghilang dari pandangan kami. Ketika ingin berfoto dengan karakter favorit lainnya, cosplayer itu sibuk mengobrol dengan para temannya sehingga saya merasa tidak enak untuk menyelanya. Pun ketika cosplayer itu sedang senggang, tukang fotonya tidak ada karena teman saya pulang duluan. Sebelum pulang, saya menyempatkan diri untuk membeli dua jenis jajanan untuk adik-adik saya di rumah: yakitori dan dango.
Hari itu, saya pulang dengan perasaan campur aduk. Saya memang sangat senang hampir semua keinginan saya terwujud. Di sisi lain, saya sedikit kecewa karena tidak dapat memaksimalkan waktu dua hari itu untuk mengikuti acara Mangafest dari pembukaan hingga penutupan. Apalagi, saya baru menyadari bahwa foto dengan para cosplayer ternyata seasyik itu. Tahun depan, pokoknya harus berfoto dengan lebih banyak cosplayer lagi. Ini kalau belum memiliki gandengan.






No comments: